Intruksi Membaca Untuk Anak Anak Dengan Disabilitas Intelektual Yang Memerlukan Komunikasi Augmentatif Dan Alternatif

 

Intruksi Membaca Untuk Anak Anak Dengan Disabilitas Intelektual Yang Memerlukan Komunikasi Augmentatif Dan Alternatif


Keterampilan literasi memiliki dampak yang kuat pada perkembangan komunikasi dan bahasa, peningkatan perkembangan kognitif, dan kemajuan pembelajaran bagi individu dengan disabilitas Intelektual (ID) dan Diagnosis spektrum Autisme (ASD) yang memerlukan komunikasi augmentatif dan alternatif (AAC). Keterampilan membaca membawa manfaat besar bagi individu dengan kebutuhan komunikasi yang kompleks. Begitu mereka dapat membaca dan menulis, mereka dapat secara mandiri mengkomunikasikan pesan apa pun yang diinginkan. Mereka tidak perlu lagi bergantung pada orang lain tuk menyediakan gambar atau simbol grafis untuk mengekspresikan ide-ide mereka. kemampuan membaca dan menulis dapat memberikan akses ke sistem AAC yang lebih maju secara linguistik. Namun demikian, subkelompok siswa dengan ID yang memerlukan AAC kurang terwakili dalam penelitian membaca. Siswa dengan ID dapat menghadapi tantangan penguasaan membaca dan menulis karena keterbatasan yang signifikan pada fungsi kognitif dan perilaku adaptif. Selain itu, keterbatasan dalam berbicara, bahasa, dan keterampilan fonologis merupakan keterampilan yang umumnya ditemukan pada anak-anak dengan ID dan ditemukan terkait dengan membaca dan akuisisi penulisan.

Salah satu alasan mengapa siswa dengan ID tidak mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengajaran membaca atau memperoleh keterampilan membaca sering kali adalah kurangnya program membaca berbasis bukti yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Sebagian besar program membaca dirancang untuk siswa yang sudah berkembang yang dapat menggunakan ucapan mereka secara fungsional. Selain itu, kurangnya harapan, pengalaman, dan kompetensi guru merupakan faktor penyebab kurangnya pengajaran membaca. Orang tua dan guru mungkin memiliki ekspektasi negatif mengenai anak-anak dengan ID yang memperoleh keterampilan membaca. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas dan waktu yang dihabiskan untuk kegiatan yang berhubungan dengan membaca, dan secara tidak langsung dapat mempengaruhi harapan siswa terhadap penguasaan dan mengurangi motivasi belajar membaca.

Untuk siswa dengan ID, fokusnya terutama pada pengembangan kosa kata. Namun, kata-kata berfrekuensi tinggi seringkali tidak digeneralisasikan dan tidak dapat digunakan secara fungsional dalam konteks akademis atau sehari-hari. Selain itu, kata-kata berfrekuensi tinggi secara terpisah tidak berkontribusi pada pembelajaran siswa untuk memecahkan kode kata-kata yang tidak diketahui, sehingga dapat membatasi keterampilan membaca. Namun, kesadaran fonologis dan pengetahuan bunyi huruf sangat memprediksi perkembangan literasi. Browder dkk. (2009) menekankan bahwa siswa dengan ID mendapat manfaat dari pengajaran kesadaran fonemik. Namun, fonem perlu disajikan secara visual dalam huruf dan gambar untuk merespons tanpa ucapan fungsional.

Disarankan agar guru memilih program membaca berbasis bukti dengan pengajaran eksplisit, umpan balik korektif, perancah, penghargaan, pengulangan, dan pengajaran sistematis dalam kesadaran fonologis dan keterampilan fonetik, yang mendorong generalisasi keterampilan. Integrasi awal kesadaran fonologis dan korespondensi bunyi-huruf, serta pengajaran langsung yang menekankan pemodelan dan praktik terbimbing, sangat penting untuk pembelajaran yang efektif. ( Oleh Madina Qurrotu'aini Nabila)


Komentar